Kisah Motivasi Mengenai Sudut Pandang Kehidupan

Sudut Pandang Kehidupan – Cerita Seorang Ayah yang memiliki 4 orang anak lalu ayah tersebut menyuruh anaknya pergi ke hutan untuk melihat pohon pir tapi di waktu yang berbeda.

Anak Pertama disuruh pergi kehutan pada musim DINGIN, anak ke 2 pada musim SEMI, anak ke 3 pada musim PANAS, dan anak ke 4 pada musim GUGUR.

Setelah semua anak pergi melakukannya, sang ayah lalu bertanya pada masing-masing anak mereka:

Anak ke 1 menjawab: Pohon pir itu tampak sangat jelek dan batangnya bengkok.

Anak ke 2 menjawab: Pohon pir itu dipenuhi dengan bunga-bunga yang menebarkan bau harum semerbak.

Anak ke 3 menjawab: Pohon pir itu dipenuhi dengan bunga-bunga yang menebarkan bau harum semerbak.

Anak ke 4 menjawab: pohon itu penuh dengan buah yang sudah matang namun ranum.

kemudian sang Ayah berkata:

“Kalian semua benar, hanya saja kalian melihat pohon tersebut pada waktu yang berbeda . Mulai sekarang, jangan pernah menilai kehidupan berdasarkan suatu masa yang sulit saja”.

Kata Kunci:

“Ketika kita sedang mengalami masa-masa sulit, segalanya akan terasa sangat tidak menjanjikan, mungkin ada banyak kegagalan, kekecewaan dan perasaan tidak nyaman. Namun, jangan mudah menyalahkan diri sendiri atau orang lain, terlebih menyalakan nasib dan takdir.

Kisah ini mengajarkan kita untuk mengubah mindset atau cara pandang dalam melihat suatu peristiwa lewat beragam sudut pandang.

Jika kita tidak bersabar saat berada di ‘musim dingin’, maka kita akan kehilangan ‘musim semi’ dan ‘musim panas’ yang penuh harapan, Pada akhirnya kita tidak bisa menuai hasilnya saat ‘musim gugur’.

Cerita Motivasi Tentang Kebahagiaan Itu Sangat Penting

Membeli Kebahagiaan – Hermanto, merupakan seorang manager perusahaan swasta termuka di Medan yang menjalani rutinitas hidupnya.

Dia selalu tiba dirumahnya pukul 8 malam. Namun Nisa Putri sulung nya baru duduk di kelas tiga SD membukakan pintu untuk ayahnya. Tampaknya Nisa Cukup lama menunggu ayahnya.

“Loh, Kok belum tidur Nisa?” sambil mengecuk keningnya.

Nisa menjawab, “Aku nunggu papa pulang. Aku matu tahu, gaji papa berapa sih?”

“Tumben Nisa nanya gaji papa? Mau minta uang lagi ya?

“Ah, engga. Pengen tau aja pa.” Ucap Nisa

“Oke. Hitung sendiri ya. Setiap hari papa bekerja sekita 10 jam dan dibayar 400.000,- Setiap bulan rata-rata dihitung 22 hari kerja. Sabtu dan minggu libur, tapi kadang Papa masih lembur di hari sabtu. Jadi berapa kira-kira gaji papa dalam satu bulan hayoo?” Nisa Berlari mengambil pensin dan kertas.

Sementara itu, papanya melepas sepatu dan menyalakan TV. Ketika Hermanto beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Nisa berlari dan mengikutinya.
“Kalau sehari papa dibayar Rp400.000,-untuk 10 jam berati, gaji papa satu jam Rp40.000, dong”

“Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, dan tidur sana”, perintah Hermanto,

“Papa, aku boleh pinjam uang Rp 5000, gak pa?

“Sudah, jangan macam-macam. Utnuk apa kamu minta udang malam-malam gini? Papa capek, mau mandi dulu. tidurlah.”

“Tapi papa…”

Kesabaran Hermanto pun habis.

“papa bilang tidur!” Bentaknya mengejutkan Nisa.

Anak kecil itu pun berbalik dan masuk kekamarnya. saat selesai mandi, Hermanto tampak menyesali perbuatannya. Dia menengok Nisa di kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu belum tidur. Dia meliha Nisa sedang menagin terisak-isak dan memegang uang Rp 15.000, ditangannya. Sambil berbaring, dia mulai mengelus kepala bocah kecil itu.

“Maafkan papa, Nak. papa sayang sama Nisa. Tapi buat apa sih minta uang malam-malam begini? Kalau mau beli mainan, besok kan bisa. Jangankan Rp.5000, lebihpun pasti papa kasih.” Jawab Hermanto

“Papa, aku bukan minta uang. Aku cuman mau pinjam. Nanti pasti aku balikin kalau sudah nabung lagi dari uang jajan selama minggu ini.”

“Iya tapi buat apa nak?” Tanya Hermanto lembut.

“Aku nunggu papa dari jam 8. Aku mau ajak papa main ular tangga. Cuman tiga puluh menit aja. Mama sering bilang kalo waktu Papa sangat berharga. Jadi, aku mau ganti waktu papa. waktu aku buka celengan, cuman ada Tp.15.000, Tapi papa bilang satu jam dibayar Rp40.000 Jadi setengah jamnya aku ganti Rp.20.000, tapi uangku kurang 5.000, jadi aku mau pinjam dari Papa.” Kata Nisa dengan polos.

Hermanto pun terdiam. Dia kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat dengan perasaan haru. Dia baru sadar, ternyata limpahan harta yang dihasilkan selama ini tidak cukup untuk “membeli” kebahagiaan anaknya.

Kata Kunci
“Banyak orang yang masih menganggap uang dan kebahagiaan berada dalam satu dimensi yang sama. kebahagiaan seperti dapat dikonversikan dengan uang. Jika ingin memiliki lebih banyak uang bearti kebahagiaan harus dikorbankan untuk sementara. Tapi, pada kenyataanya kedua hal itu tidaklah sama.

Berhentilah menukar-nukar kedua hal itu dalam hidup. Mulailah memilah hal penting diantara yang mendesak. Mungkin bagi dunia kau hanyalah seseorang, tapi bagi seseorang kau adalah Dunianya.”

Cerita Kisah Menatap Masa Depan

Menatap Masa Depan – Seorang pemuda sendang duduk termenung memikirkan masa depannya. Dia mulai bertanya-tanya, akan sererti apa masa depannya dan bagai mana cara memperolehnya.

Merasa tidak menemukan jawaban, dia berdiri dan mulai melangkah. Pemuda itu berjalan kearah taman dan melihat seorang kakek tua yang sedang duduk disebuah kursi taman. Dia beranggapan bahwa kakek itu mungkin dapat menjawab kegelisahan hatinya.

Kakek itu tentunya sudah melangkah lebih jauh dan melihat masa depannya secara nyata pada usianya saat ini. Perlahan pemuda itu berjalan menghampirinya, menyapa sang kakek, dan duduk di sebelahnya. Pemuda itu yakin akan menemukan jawabannya dan memulai pembicaraan.

“Kakek tentu telah melewati banyak hal dan menatap masa depan sejak masa muda kakek. Kalau saya boleh tahu, apa itu masa sepan dan bagaimana car amemperolehnya? Jujur, saya binggung akan masa depan saya.”Kata pemuda itu Lirih.

Kakek itu termenung sejenak sambil menatap langit, dan dengan senyuman dia mulai berujar,” Saya juga pernah mengalami masa muda seperti kamu. Saat itu, saya juga sering merasa bingun akan masa depan dan bagaimana cara memperolehnya.”

“Dulu saya cenderung disibukan saat berpikir mengenai masa depan. Akibatnya, saya selalu merasa khawatir dan membuang waktu saat sedang memikiekannya. Suatu saat, saya sadar bahwa masa depan bukanlah hal yang perlu dikhawatirkan.”

” Bagaimana mengalihkan perhatian dari masa depan, kek? Bukankah masa depan adalah hal yang terpenting dan harus mulai dipikirkan dari sekarang?” Tanya pemuda itu penasaran.

“Kamu benar nak, masa depan adalah hal yang penting dan harus mulai dipikirkan dari sekarang?” Tanya pemuda itu penasaran.

“Kamu benar nak, masa depan adalah hal yang terpenting. Tapi, apakah pernah terpikir olehmu, menghawatirkan masa depan berati membayangkan sesuatu yang belum pasti. Banyak orang terlena dan mulai lengah pada hal yang justru lebih penting, Yaitu masa sekarang.” Pemuda tersebut langsung termenung, dan kakek melanjutkan pembicaraan.

“Tanpa kita sadar, sesungguhnya masa depan sangat sulit untuk ditebak. Apa yang dianggap oleh banyak orang sebagai masa depan sesungguhnya adalah masa sekarang.”

“Mengapa kakek bisa berkata demikian?” tanya pemuda itu.

“menurut, apakah mungkin akan ada masa depan tanpa masa sekarang? Bukanlah masa deoan adalah hasil dari masa sekarang? Seumur hidup saya sampai sekarang, akhirnya saya benar-benar sadar bahwa masa sekarang adalah penentu masa depan. Karenaitu, saya akan memulai mengerjakan apapun dengan sebaik-baiknya dan berusaha melakukan yang terbaik setiap harinya.” Ujar kakek itu dengan mantap.

Pemuda itu lalu bertemrima kasih pada sang kakek, beranjak, dan mulai melangkah dengan perasaan legah.