Kisah Sukses Petani Jagung

Pengalaman Pribadi – Seorang pebisnis besar biasanya tidak ingin membagikan resep rahasia ataupun ilmu dalam menjalankan bisnis tertentu. Tetapi Ayahku tidak seperti itu, ayah tidak pernah pelit dalam berbagi ilmu yang dimilikinya, dari sekian banyak pegawai yang dimilikinya, semuanya diajarkan untuk menbuat sepatu. Tak ada satupun ilmu yang di sembunyikan. Tak hanya itu mereka semua dilepas untuk bisa belajar mandiri.

Aku dan Mas Andre terheran-heran melihat bos utamanya mendidik karyawannya untuk mandiri, kukankah dapat melahirkan pesaing baru bagi usaha Ayah? Kemudian ayah menjelaskan konsepnya dengan satu kisah sederhana.

“Bapak pernah cerita ke kalian tentang Kisah Seorang Petani Jagung Yang Berhasil?”

Ada seorang petani jagung yang sangat sukses dinegerinya, setiap tahun diadakan kontes jagung, untuk mencari petani mana yang menghasilkan jagung terbaik. Petani yang sukses itu dering memenangkan kontes jagung tersebut. Bahkan setiap kontes yang diadakan dia yang memenangkan semuanya. apakah kalian tahu rahasianya? tanya si ayah kepada kami.

Ada seorang wartawan bertanya pada petani sukses ini, apa formula rahasianya dia bisa memenangkan kontes jagung tersebut sampai berkali-kali. Sipetani menjawab, takada formula rahasia, aku hanya membagikan benih-benih jagung terbaikku kepada petani tetangga-tetanggaku.

Baca Juga: Kisah Cerdik Nelayan Jepang

Benih jagung terbaik kok dikasihkan ke tetangga? Itu kuncinya, Kita tahu bahwa angin menerbangkan serbuk sari dari bunga-bunga yang masak, lalu menerbangkannya dari sati ladang ke ladang yang lain. Coba bayangkan Jika tanaman jagung tetangga buruk, maka serbuk sari yang ditebarkan keladang petani sukses ini pun juga buruk. tentunya akan menurunkan kualita jagung yang diberikan.

Sebaliknya jika tanaman jagung tetangga baik, maka serbuk sari yang dibawa oleh angin pun akan baik juga, disinilah bila kita ingin mendapatkan hasil jagung yang baik, kita harus menolong tetangga kita untuk mendapatkan jagung yang baik pula.

Begitu juga dengan hidup kita anakku. Jika kita ingin meraih keberhasilan, maka kita harus menolong orang sekitar ktia menjadi berhasil pula. Mereka yang ingin hidup dengan baik harus saling tolong menolong orang disekitarnya untuk hidup dengan baik pula.

Kisah Motivasi Pengamen Cilik Pembawa Hikmah

Cerita Kisah – Pada malam hari aku menaiki bus yang biasa ku tumpangi, dalam bus tersebut tidak terlalu kosong dan tidak terlalu penuh sehingga aku mendapatkan kursi untuk duduk. Setelah aku duduk, aku melihat seorang bocah yang kemaren terlihat ku juga sedang mengamen. Bocah tersebut mengamen tanpa menggunakan alat musik, tanpa tepukan tangan. Kira-kira berusia 10 tahun. Aku senang lihat bocah tersebut. Yang aku suka lihat dari dirinya, ia tidak seperti anak jalanan lainnya. Kotor bau dan menyanyi seadanya. Tampang bocah tersebut bersih, memakai sandal, rambutnya terurus, kuku tangan dan kakinya pun bersih. Seperti anak rumahan Pikirku.

Satu hal yang menculik perhatianku, ternyata Pengamen Cilik tersebut kurang normal. Ia menyanyi dengan cara mengeja kata demi kata dengan sekuat tenaga agar apa yang diucapkan jelas terdengar. Lirik lagu Sholawat Bacar menjadi lagu favoritnya. Beberapa penumpang senyum-senyum dengan memandanginya. Aku sendiri juga ingin tertawa dan berusaha mehanan tawaan ku dengan melihat hal lain.

Sesudah ia bernyanyi, ternyata masih ada 1 hal yang dia lakukan. Bocah itu memberi nasihat kepada kami tentang manfaat lima perkara sebelum lima perkara. Beliau membawakannya dengan penuh semangat, Penuh percaya diri dan sangat sungguh-sungguh. Tanpa sedikitpun malu, meskipun banyak penumpang yang menertawakan beliau. Dia mendoakan kami semua. Hatiku begitu lapang mendengarnya. Beda rasanya ketika yang berdoa adalah panitia masjid yang memang ada maksud ingin meminta sumbangan. Tetapi anak itu sangat polos.

Baca Juga: Kisah Motivasi Perbuatan Baik Akan Indah Pada Waktunya

Biasanya para pengamen meminta bayaran setelah selesai ia bernyanyi, tidak dengan bocah tiu. Dia memulainya dari kursi paling depan sebelah pak supir. Orang pertama, kedua telah ia lewati tanpa diberi apa-apa, namun orang ketiga memberinya uang. “Makasih Pak, semoga rizkinya nambah ya Pak” Spontan anak itu mendoakan sang bapak. Tersentuh hati saya mendengar ucapan anak tersebut.

Kerjaan saya di bus biasanya menyeleksi setiap orang pengamen bis kota, minimal melihat tampang dan kesungguhan mereka dalam bernyanyi. Pengamen cilik biasanya dimanfaatkan orang tuanya utuk mencari pundi-pundi uang. saya pun memberikan dia sedikit uang dan dia memberikan saya doa yang indah.

Sungguh banyak hikmanya yang bisa kita petik. Pengamen cilik itu telah mengajarkan banyak hal kepada saya. Sesungguhnya kita yang memiliki fisik yang sempurna harus bekerja keras tanpa rasa malu yang penting dengan cara yang halal. Semoga Tuhan memberikan rahmat dan perlindungan Nya kepada bocah itu dari kejahatan di malam hari sewaktu ia mengamen, Amiin.

Kisah Motivasi Kerja Merupakan Kehormatan

Kerja Adalah Kehormatan – Seorang Staf suatu perusahaan sedang beristirahat di sebuah cafe terbuka siang hari. Sibuk dengan pekerjaanya, saat itu seorang gadis keicl yang memawa beberapa tangkai bunga menghampirinya. “Om beli bunga Om”. “tidak dik maaf saya tidak butuh” lanjut mengerjakan pekerjaannya. “Satu saja om, bunganya kan bisa dikasihkan ke pacarnya atau orang tuanya”, setengah kesal dan nada tinggi pemuda itupun mengatakan “Adik kecil lihat saya lagi sibuk? Kapan-kapan ya kalo om buttuh om akan beli bunga dari kamu.” Gadis kecil itupun pergi dan mengampiri orang yang lalu-lalang disekitar Cafe itu. Setelah jam istirahatnya selesai pemuda itu pun keluar meninggalkan tempat itu, namun pada saat di depan bertemu dengan adik kecil yang berjualan bunga itu kembali.

“Om sudah selesai kerja nya, sekarang beli bunganya dong om, murah kok satu tangkai aja om.” Pemuda ini pun entah jengkel atau kasihan lalu memberikan uang 2000 kepada adik kecil ini, “Ini uang buat kamu dik, om tidak mau bunganya anggap saja buat sedekah dik. Uang tersebut diambil adik kecil namun ia berikan uang itu kepada pengemis tua yang mengemis disekitar area tersebut.

Pemuda itupun merasa sedikit tersinggung dan mendekati gadis kecil itu lalu bertanya “Kenapa uang tadi tidak kamu ambil, malah kamu berikan pada pengemis itu?” Dengan keluguan si gadis kecil menjawab, “Maaf om, saya sudah berjanji dengan ibu saya bahwa saya harus menjual bunga-bunga ini dan bukan mendapatkan uang dari hasil meminta-minta. Ibu saya selalu berpesan walaupun tidak punya uang kita tidak boleh menjadi pengemis.” Pemuda itu sontak kaget dan terharu, betapa ia mendapatkan pelajaran yang sangat beharga dari seorang anak kecil bahwa kerja adalah sebuah kehormatan, meski hasil tidak seberapa keringat yang menetes dari hasil kerja keras merupakan suatu kebanggaan.

Si pemuda itu pun akhirnya mengeluarkan dompetnya dan membeli semua bunga-bunga tersebut, bukan karena kasihan, tapi karena semangat dan keyakinan si anak kecil yang memberinya pelajaran beharga hari itu.

Kisah Tentang Pahlawan Cilik Bagiku

Anakku Pahlawan Dunia – Anak Perempuanku selalu mendapatkan rangking ke-23 dari 25 orang siswa setiap kenaikan kelas. Dia dijuluki dengan panggilan nomor 23. Panggilan tersebut terasa kurang enak didengar, tapi anehnya anak kami tidak merasa keberatan atas panggilan tersebut.

Pada sebuah acara keluarga besar, kami berkumpul bersama di sebuah restoran. Topik pembicaraan semua adalah tentang jagoan mereka masing-masing. Anak-anak ditanya apa cita-cita bila sudah besar, Ada yang menjawab jadi Dokter, pilot, presiden, arsiter dan semua keluargapun bertepuk tangan. Tapi anak perempuan kami terlihat sangat sibuk membantu anak kecil lainnya makan. Semua orang mendesak anak saya, kemudian dia menjawab “Saat aku dewasa, cita-citaku yang pertama adalah menjadi seorang guru TK, memandu anak-anak menyanyi, menari lalu bermain”. Semua orang bertepuk tangan demi menunjukan kesopanan.

Kemudian mereka bertanya, cita-cita kedua ingin jadi apa nak? Kemudian dia menjawab “Saya ingin menjadi seorang ibu, mengenakan celemek bergambar Doraemon dan memasak didapur, kemudian membacakan cerita untuk anak-anakku dan membawa mereka keteras rumah untuk melihat bintang”.

Semua sanak keluarga saling pandang tanpa tahu harus berkata apa. Raut muka istriku terlihat canggung sekali.

setelah sampai ke rumah, istriku mengeluh padaku, apakah aku akan membiarkan anak perempuan kami kelaknya hanya menjadi guru TK?

Dia sangat penurut, dia tidak lagi membaca komik, tidak lagi buat origami, tidak banyak bermain lagi. Bagai seekor burung kecil yang kelelahan, dia ikut les belajar sambung menyambung, buku pelajaran dan latihan dikerjakan terus tanpa henti. Sampai akhirnya tubuh kecilnya tidak bisa menahan lelah lagi sehingga terserang flu berat dan radang paru-paru. Akan tetapi hasil ujiannya pun masi saja tetap mendapatkan peringkat ke 23.

Pada hari libur, teman-teman sekantor mengajak pergi rekreasi bersama. Semua orang membawa kelaurga mereka. Sepanjang perjalanan penuh dengan tawaan, ada anak yang bernyanyi, ada juga yang memperagakan kebolehannya.

Anak kami tidak punya keahlian khusus, hanya terus bertepuk tangan dengan sangat gembira. Dia sering sekali lari kebelakang untuk mengawasi bahan makanan, merapikan kembali kotak makanan yang terlihat sedikit miring , mengetatkan tutup botol yang longgar atau mengelap awdah sayur yang meluap ke luar. Dia sibuk sekali bagaikan seorang pengurus rumah tangga cilik.

Pada saat waktunya makan, tanpa diduga ada anak laki-laki yang berkelahi memperebutkan makanan, banyak orang yang melerai mereka namun tidak ada yang berhasil, sampai anak saya menghampiri kedua lelaki itu dan mereka pun terlerai dengan damai.

Pada saat dalam perjalanan pulang, anak-anak lainnya merasa gelisa. Tetapi anak saya terus berguron sehingga mereka merasa terhibur dan terus tertawa. Diapun memotong gambar bintang dan membuat potongan hewan-hewan kecil dan membagikan kepada anak-anak lainya satu persatu dan merekapun terlihat sangat gembira.

Selepas ujian semester, aku kembali mendapat telepon dari wali kelas anak ku. Pertama mendengar anakku kembali mendapatkan peringkat 23 lagi, Namun walikelas tersebut mengatakan ada hal yang aneh, dan saya spontan merasa kaget dengan informasi tambahan tersebut. Sehingga saya merasa cemas dan menanyakan apa berita tambahan tersebut.

Walikelas tersebut memberi tahu dari 30 tahun dia mengajar. Setiap ujian pelajaran Bahasa Indonesia selalu ada soal tambahan yang berisi:

SIAPA TEMAN SEKELAS YANG PALING ANDA KAGUMI DAN BERIKAN ALASANYA?

Dan dari jawaban semua siswa tersebut mereka semua menjawab nama yang sama yaitu nama anakku. Lalu Alasan mereka karena dia selalu membuat kami semangat dan ceria sewaktu dikelas, enak diajakin berteman. DAN wali kelas memberikan pujian “Anak bapak ini kalau bertingkah laku selalu menjadi yang No.1.”

Setelah menutup telepon, akupun mengajak anakku mengobrol dan berkata, “suatu saat kamu akan menjadi pahlawan anakku”

Anakku yang sedang merajut selendang kemudian menjawab “Bu guru pernah mengatakan sebuah pepatah, “ketika pahlawan lewat harus ada orang yang bertepuk tangan di tepi jalan. Ayah, aku tidak mau menjadi pahlawan. Aku mau jadi orang yang bertepuk tangan ditepi jalan saja”.

Sontak akupun terkejut mendengarkan pernyataan dari anakku, saat mendengar perkataan dia hatikupun menjadi hangat dan merasa terharu.

Dan aku berfikir didunia sekarang banyak orang yang ingin menjadi pahlawan, namun anakku memilih untuk jadi orang yang tak terlihat dan terus memberi dukungan kepada orang lain. Diibaratkan seperti sebuah AKAR tanaman, tidak terlihat, tapi dia yang mengokohkan, memberi makan, dan memelihara kehidupan yang lain.

Kasih Seorang Kakak Kepada Adiknya

Kasih Seorang Kakak – Ben adalah pendeta miskin yang memiliki kakak kaya raya. Pada tahun 1940, ketika bisnis minyak bumi sedang mengalami puncak, kakaknya menjual aset nya di texas yaitu sebuah padang rumput yang luas, ketika itu harganya sangat tinggi. kakak Ben menjadi kayaraya, lalu menanam saham pada perusahaan besar dan mamperoleh untung besar. Sekarang ia tinggal di apartemen mewah di newyork dan memiliki sebuah kantor wallstreet.

Seminggu sebelum Natal, sang kakak menghadiahi Ben sebuah mobil mewah dan mengkilap. Suatu pagi, seorang anak gelandangan menatap mobil Ben dengan penuh kekaguman.

“Hai nak” sapa Ben.

“Apakah ini mobil tuan?”, Anak itu melihat Ben dan bertanya.

“ya,” jawab Ben singkat

“Berapa harganya tuan?” tanyanya.

“Sesungguhnya aku tidak tau berapa harganya, ini adalah hadia pemberian kaka saya”

Mendengar jawaban itu, mata anak itu terbelalak dan bergumam,

“Seandainya… Seandainya..”

Ben mengira dia tahu persis apa yang diharapkan anak kecil itu,

“Anak ini pasti berharap memiliki kaka yang sama seperti kakaku”. Ternyata Ben salah menduga, saat anak itu melanjutkan kata-katanya:

“Seandainya saya bisa menjadi kakak seperti itu ..” Ben terheran-heran, kemudian mengajak anak itu berkeliling dengan mobil barunya.

Anak itu tak henti-hentinya memuji keindahan mobil Ben. sampai suatu saat anak berkata,

“Tuan, apa anda bersedia mampir ke rumah saya? Letaknya hanya beberapa blok dari sini”, pintanya.

Ben pun mengira pasti dia akan memamerkan pada teman-temannya bahwa dia sedang naik mobil mewah

“ok, mengapa tidak”, pikir Ben saat menuju kerumah anak itu. Saat tiba disudut jalan, si anak gelandangan memohon pada Ben untuk berhenti senjenak,

” Tuan, bersediakah menunggu sebentar? Saya segerah kembali”, kata anak itu sambil berlari menuju rumah gubuknya yang sudah reot.

Setelah menunggu hampir 10 menit, Ben mulai penasaran apa yang dilakukan anak itu dan keluar dari mobil dan menatap rumah reot itu. Saat itu ia mendengar langkah kaki pelan. Kemudian, tampak anak gelandangan itu menggendong adiknya yang lumpuh. Setelah tiba di dekat mobil Ben, anak itu berkata kepada adiknya:

“Lihat.. seperti kaka bilang padamu. Ini mobil terbaru. Kakak dari tuan ini menghadiakannya mobil ini. Suatu saat nanti, kakak berjanji akan membelikan mobil seperti ini untukmu”.

Seandainya saya dapat menjadi kakak seperti itu.